Sabtu, 08 Desember 2012

TAWURAN ANTAR PELAJAR


TAWURAN ANTAR PELAJAR

Tawuran pelajar saat ini sudah menjadi momok bagi masyarakat. Prilaku tawuran pelajar bukan hanya mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cedera tapi sudah merenggut ratusan nyawa melayang sia-sia selama sepuluh tahun terakhir. Tawuran antar pelajar memang sudah tidak lagi menjadi hal yang jarang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta. Fenomena ini bisa terjadi karena banyak hal, dimulai dari hal sepele, hingga hal yang besar, yang notabenenya pantas untuk dijadikan bahan masalah yang sebenarnya. Masalah yang sering terjadi pada umumnya adalah tindakan vandalisme di fasilitas umum ataupun pribadi, saling meledek ketika di angkutan umum, perselisihan pendapat dan bahkan hanya sekadar iseng untuk mencari kesenangan semata.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai akhirnya melibatkan pihak kepolisian.
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.
Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, adalah diantaranya sebagai berikut:
  1. Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
  2. Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling bermusuhan.
  3. Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga poin diatas.
  4. Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan
  5. lemahnya pengasuhan dan ketahanan keluarga.
Adapun solusi agar tidak terjadi kembali tawuran antar pelajar dapat dilakuakan beberapa upaya sebagai berikut:
  1. Perhatian Orangtua
     Mungkin ini adalah tindakan kecil yang sangat berdampak besar pada gejolak jiwa seorang anak. Kurangnya perhatian diberikan orangtua kepada anaknya seringkali membuat jiwa seorang anak terguncang, keinginan anak untuk mengekspresikan perasaannya menjadi melenceng. Hal tersebutlah yang menyebabkan konflik di dalam kejiwaan seorang anak. Berlebihnya perhatian orangtua juga dapat menyebabkan keinginan seorang anak untuk berontak, meskipun hal tersebut masih bergantung pada lingkungan main yang biasa disinggahi oleh sang anak. Maka untuk itu, peran orangtua sangatlah penting untuk mengurangi keinginan sang anak untuk berontak. Berikanlah kasih sayang dan perhatian yang disangka cukup untuk anak, berilah ia kebebasan untuk berekspresi tapi tetap berada dalam wawasan orangtua.
  1. Pihak Sekolah
Pihak sekolah pun seharusnya dapat menjadi peranan penting untuk mengurangi fenomena tawuran. Pihak sekolah berhak dan memiliki otoritas untuk memberikan hukuman dan tindakan kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Pihak sekolah pun seharusnya memberikan ketegasan kepada siswa yang melanggar aturan tentang tawuran. Bukan malah dibiarkan dan menganggap hal tersebut adalah sebuah tradisi.
  1. Lingkungan Main
     Setiap pelajar memiliki prilaku yang berbeda, dan setiap prilaku yang terbentuk pada tiap-tiap pelajar merupakan cerminan dari lingkungan permainan yang biasanya dilakukan oleh pelajar tersebut. Pepatah mengatakan, 'karena nila setitik, rusak susu sebelanga', dari situ sudah terjelaskan bagaimana peranan lingkungan pertemanan seorang anak sangat berpengaruh bagi prilakunya. Usia muda adalah usia yang sangat rentan untuk tergoyahkan batinnya, seorang kawan memberikan usulan, maka sang anak akan melakukannya. Menjalin pertemanan kepada siapapun tidaklah dilarang, tapi setiap tindakan memiliki batasannya tersendiri.
Selain ketiga hal di atas, berikut tips agar tawuran antar pelajar dapat dihindari, adalah sebagai berikut.
1. Membuat Peraturan Sekolah Yang Tegas
Bagi siswa siswi yang terlibat dalam tawuran akan dikeluarkan dari sekolah. Jika semua siswa terlibat tawuran maka sekolah akan memberhentikan semua siswa dan melakukan penerimaan siswa baru dan pindahan. Setiap pelajar siswa siswi harus dibuat takut dengan berbagai hukuman yang akan diterima jika ikut serta dalam aksi tawuran. Bagi yang membawa senjata tajam dan senjata khas tawuran lainnya juga harus diberi sanksi.
2. Memberikan Pendidikan Anti Tawuran
Pelajar diberikan pemahaman tentang tata cara menghancurkan akar-akan penyebab tawuran dengan melakukan tindakan-tindakan tanpa kekerasan jika terjadi suatu hal, selalu berperilaku sopan dan melaporkan rencana pelajar-pelajar badung yang merencanakan penyerangan terhadap pelajar sekolah lain. Jika diserang diajarkan untuk mengalah dan tidak melakukan serangan balasan, kecuali terpaksa.
3. Memisahkan Pelajar Berotak Kriminal dari Yang Lain
Setiap manusia memiliki sifat bawaan masing-masing. Ada yang baik, yang sedang dan ada yang kriminil. Daripada menularkan sifat jahatnya kepada siswa yang lain lebih baik diidentifikasi dari awal dan dilakukan bimbingan konseling tingkat tinggi untuk menghilangkan sifat-sifat jahat dari diri siswa tersebut. Jika tidak bisa dan tetap berpotensi tinggi membahayakan yang lain segera keluarkan dari sekolah.
4. Kolaborasi Belajar Bersama Antar Sekolah
Selama ini belajar di sekolah hanya di situ-situ saja sehingga tidak saling kenal mengenal antar pelajar sekolah yang satu dengan yang lainnya. Seharusnya ada kegiatan belajar gabungan antar sekolah yang berdekatan secara lokasi dan memiliki kecenderungan untuk terjadi tawuran pelajar. Dengan saling kenal mengenal karena sering bertemu dan berinteraksi maka jika terjadi masalah tidak akan lari ke tawuran pelajar, namun diselesaikan dengan cara baik-baik.
5. Membuat Program Ekstrakurikuler Tawuran
Diharapkan setiap sekolah membuat ekskul konsep baru bertema tawuran, namun tawuran pelajar yang mendidik, misalnya tawuran ilmu, tawuran olahraga, tawuran otak, tawuran dakwah, tawuran cinta, dan lain sebagainya yang bersifat positif. Tawuran-tawuran ini sebaiknya bukan bersifat kompetisi, tetapi bersifat saling mengisi dan bekerjasama sehingga bisa bergabung dengan ekskul yang sama di sekolah lain.
Dengan berbagai terobosan-terobosan baru dalam hal kegiatan menanggulangi tawuran pelajar antar sekolah secara perlahan akan menciptakan persepsi di mana tawuran itu adalah kegiatan bodoh yang sia-sia sehingga tidak layak ikut serta. Diharapkan lama-kelamaan tawuran akan segera punah dari dunia pelajar Indonesia. Serta menciptakan pelajar-pelajar yang tanggung dan bertanggung jawab.

Senin, 12 November 2012

PROSES PEMBELAJARAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 3 DONOROJO PACITAN


PROSES PEMBELAJARAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 3 DONOROJO
PACITAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan menurut islam adalah pendidikan yang difahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-quran dan al-sunnah. Adapun pendidikan agama islam adalah upaya mendidikkan agama islam atau ajaran islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang. Sehingga pendidikan agama islam merupakan proses pemberdayaan dan pewarisan ajaran agama, budaya, dan peradaban umat islam dari generasi ke generasi sepanjang sejarahnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ramayulis yang menyatakan bahwa:
“Pendidikan Agama Islam adalah merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-quran, dan al-hadits, melalui kegiatan bimbingan, mengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman”.[1]

Pendidikan Agama Islam merupakan core (inti), sehingga bahan-bahan kajian yang termuat dalam pendidikan umum yang disertai dengan mengembangkan IQ, EQ, CQ, dan SQ, juga harus dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai islam (PAI). Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam bukan sekedar berfungsi sebagai upaya pelestarian ajaran dan nilai-nilai agama islam, tetapi juga berfungsi untuk mendorong pengembangan kecerdasan dan kreativitas peserta didik, serta pengembangan tenaga yang produktif, inovatif yang memiliki jiwa pesaing, sabar, rendah hati, menjaga harga diri (self-esteem), berempati, mampu mengendalikan diri dan nafsu (self-control), beraklak mulia, bersikap amanah dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankannya.
Indonesia adalah Negara dengan kuantitas penduduknya beragama Islam. Yang seharusnya pendidikan agama Islam menjadi sebuah primadona bagi masyarakat Indonesia. Seperti orang tua, peserta didik, dan lain-lain, dan yang seharusnya pendidikan agama Islam menjadi sebuah momok pendidikan yang penting. Karena dalam pendidikan agama Islam, banyak sekali uraian-uraian yang berhaluan atas berdasarkan al-Qur’an dan al- Hadist yang menjadi pegangan hidup seorang muslim sampai liang kubur dan akan mendapatkan syafaatnya sampai kapan pun. Akan tetapi, daya tarik masyarakat Indonesia sedikit sekali untuk memasukkan penerus keturunan hidupnya ke lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Kurang tertariknya masyarakat untuk memilih lembaga-lembaga pendidikan Islam sebenarnya bukan karena terjadi pergeseran nilai atau ikatan keagamaannya yang mulai pudar, melainkan karena sebagai besar kurang menjajikan masa depan dan kurang responsive terhadap tuntunan dan permintaan saat ini maupun mendatang. Padahal, paling tidak ada tiga hal yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan, yaitu nilai (agama), status sosial dan cita-cita. Masyarakat yang terpelajar akan semakin beragam pertimbangannya dalam memilih pendidikan bagi anak-anaknya. Hal ini berbeda dengan kondisi tempo dulu yang masih serba terbatas dan terbelakang. Tempo dulu, pendidikan lebih merupakan model untuk pembentukan maupun pewarisan nilai-nilai keagamaan dan tradisi masyarakat. Artinya, kalau anaknya sudah mempunyai sikap positif dalam beragama dan dalam memelihara tradisi masyarakatnya, maka pendidikan dinilai sudah menjalankan misinya. Tentang seberapa jauh persoalan keterkaitan dengan kepentingan ekonomi, ketenagakerjaan dan sebagainya merupakan persoalan yang kedua. Akan tetapi, bagi masyarakat yang sudah semakin terdidik dan terbuka, pada umunya lebih rasional, pragmatis, dan berfikir jangka panjang dan karenanya pula, ketiga aspek tersebut (nilai, status social, cita-cita) dijadikan pertimbangan secara bersama-sama, bahkan dua pertimbangan terakhir (status social dan cita-cita) cenderung lebih dominan.[2]
Menuju pendidikan Islam pertama adalah niscaya bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dalam berbagai jenis dan jenjang pendidikan itu sesungguhnya sangat diharapkan oleh berbagai pihak, terutama umat Islam. Bahkan kini terasa sebagai kebutuhan yang sangat mendesak terutama bagi kalangan muslim kelas menengah ke atas yang secara kuantitatif terus meningkat belakangan ini. Fenomena sosial yang sangat menarik ini mestinya bisa dijadikan tema sentral kalangan pengelola lembaga pendidikan Islam melakukan pembaharuan dan pengembangan.[3]
Pendidikan agama Islam merupakan kebutuhan manusia, karena sebagai makhluk paedagogis, manusia dilahirkan dengan membawa potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi, serta pendukung dan pemegang kebudayaan.[4]
Salah satu pesan dalam pendidikan agama Islam adalah menjadikan pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran yang dapat memacu siswa rajin dan pintar serta kreatif dan inovatif.[5] Karena dalam logika al-Quran manusia memiliki segala kelebihan yang potensial dan mereka harus mengarahkan diri mereka sendiri untuk menerapkan kecenderungan- kecenderungan baik itu dalam perintis tindakan.[6]
Untuk menciptakan masyarakat (siswa) yang kompetitif dan memiliki potensial yang lebih maju dalam bidang pendidikan agama islam, diperlukan adanya sebuah proses kerja sama dari pendidik (guru) dan masyarakat (siswa) dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga proses belajar mengajar tersebut dapat tersampaikan dengan baik. Adanya Kegagalan dan kesuksesan menanamkan nilai-nilai agama islam dalam pribadi siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah dari faktor tatacara atau proses penyampaian materi Pendidikan Agama Islam terhadap siswa sehingga dapat membuatnya mudah menerima dan memahami pelajaran tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari ataupun sebaliknya. Kemudian faktor lingkungan tempat asal siswa. Lingkungan tempat tinggal siswa juga mempengaruhi penyerapan hasil dari pembelajaran siswa yang telah ia peroleh dari  sekolah. Siswa yang bukan dari lingkungan pesantren atau akademis, yaitu dari masyarakatnya belum mengenal islam secara dalam serta kurangnya lembaga dan tempat-tempat untuk memperdalam agama islam, seperti pendidikan baca tulis al-quran, Madin, akan memperlambat penyerapan dan penerapan nilai-nilai agama islam dalam diri siswa.
Tugas seorang guru memang berat dan banyak. Akan tetapi semua tugas guru itu akan dikatakan berasil apabila ada perubahan tingkah laku dan perbuatan pada siswa ke arah yang lebih baik. Maka tentunya hal yang paling mendasar ditanamkan adalah nilai-nilai keagamaan. Sehingga dapat berdampak pada kerendahan hati dan perilaku yang baik, baik terhadap sesama manusia, lingkungan dan yang paling pokok adalah kepada Allah Swt. jika ini semua kita perhatikan maka tidak akan terjadi kerusakan alam dan tatanan kehidupan.
            Dengan memperhatikan uraian-uraian tersebut diatas, mendorong penulis ingin mengetahui proses pembelajaran PAI di Sekolah Umum Pertama dengan mengamati secara teliti dan sistematis melalui penelitian, dengan judul: “PROSES PEMBELAJARAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 3 DONOROJO, PACITAN”.

B.     Batasan dan Rumusan Masalah
1.      Batasan Masalah
Sesuai dengan penjabaran masalah diatas maka dalam penelitian ini peneliti akan membatasi ruang lingkupnya sebagai berikut:
1.      Proses pembelajaran nilai-nilai keagamaan melalui Pendidikan Agama Islam di SMPN 3 Donorojo, Pacitan.
2.      Kegiatan yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam dan siswa SMPN 3 Donorojo, Pacitan dalam pembinaan dan penerapan nilai-nilai agama islam (PAI) dalam lingkungan akademis dan masyarakat.
3.      Faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 3 Donorojo, Pacitan.

2.      Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang dan batasan masalah tersebut diatas, maka permasalahannya dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah proses pembelajaran nilai-nilai keagamaan melalui Pendidikan Agama Islam di SMPN 3 Donorojo, Pacitan?
2.      Apa saja kegiatan yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam dan siswa SMPN 3 Donorojo, Pacitan dalam pembinaan dan penerapan nilai-nilai agama islam (PAI) dalam lingkungan akademis dan masyarakat?
3.      Apa faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran nilai-nilai keagamaan Pendidikan Agama Islam di SMPN 3 Donorojo, Pacitan?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui proses penanaman nilai-nilai agama islam dalam diri siswa SMP 3 Donorojo, Pacitan melalui Pendidikan Agama Islam.
2.      Mengetahui lebih jelas tentang kegiatan guru dan siswa SMPN 3 Donorojo, dalam pembinaan dan penerapan nilai-nilai agama islam (PAI) dalam lingkungan akademis dan masyarakat.
3.      Megidentifikasi faktor yang mendukung dan menghambat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap siswa SMPN 3 Donorojo, Pacitan.
2.      Manfaat Penelitian
Setelah menentukan tujuan, selanjutnya menentukan kegunaan penelitian atau manfaat dari dilaksanakannya suatu penelitian baik untuk pengembangan teori, bagi peneliti, lembaga pendidikan maupun khalayak umum.
1.      Bagi Peneliti
a.    Menambah wawasan dan pengetahuan tentang permasalahan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran nilai-nilai keagamaan melalui pendidikan agama islam di SMPN 3 Donorojo, Pacitan.
b.    Memberikan pengetahuan dan pengalaman secara langsung mengenai bagaimana proses pembelajaran pendidikan agama islam serta menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar dan kehidupan sehari-hari.
2.   Bagi lembaga pendidikan
a.    Memberikan konstribusi keilmuan dalam bidang pendidikan.
b.    Menjadi masukan bagi pendidik tentang pentingnya proses Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan mental dan jiwa siswa dan penerapannya.
3.      Bagi Khalayak Umum
Sebagai pegetahuan atau informasi serta menambah partisipasi dan kepedulian masyarakat umum terhadap dunia pendidikan.


D.    Deskripsi Hasil Observasi
Dari hasil observasi lapangan yang dilakukan peneliti, dapat digambarkan sebagai berikut:
SMPN 3 secara geografis terletak di desa klepu, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sekolah ini memiliki sekitar 200 sisiwa aktif dari kelas I sampai III.  SMPN 3 dibangun di atas tanah yang sangat luas yang bangunannya menghadap kearah barat dengan bentuk bangunan membentuk huruf O. Disana terdapat dua halaman sekolah. Halaman sekolah yang pertama terletak di depan sekolah, di halaman ini terdapat pohon-pohon serta terdapat tempat parkiran untuk para guru dan siswa. Halaman sekolah yang kedua terletak di tengah-tengah sekolah. Halaman ini dipergunakan untuk berbagai aktifitas siswa, seperti kegiatan kepramukaan dan tempat bermain ketika waktu istihat.
Untuk kegiatan belajar mengajar dimulai pada jam 07.00 sampai 12.00 WIB. Dimulai dan diakhiri dengan membaca doa. Dalam kegiatan pembelajaran PAI dilaksanakan dalam ruang kelas dengan jumlah murid di setiap kelas sekitar 20 anak. Di dalam kelas terdapat majalah dinding yang menghadap ke selatan di belakang meja siswa, papan informasi menghadap ke barat dekat dengan meja guru, whiteboard yang menghadap ke utara terletak di samping guru, serta papan administrasi yang menghadap ke barat berdekatan dengan papan informasi, adapun kelas menghadap ke seletan.
Siswa sangat antusias dalam mendengarkan dan mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Dalam kegiatan pembelajaran PAI, Umi Khasanah sebagai salah satu dari pendidik mengatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran PAI anak-anak didik sangat antusias dan tertarik. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka memperhatikan, mendengarkan, duduk, serta adanya sifat timbal balik/respon dari pendidik dan anak didik. Umi Khasanah juga menambahkan bahwa hal ini juga tidak terlepas dari metode yang ia terapkan, seperti metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan praktek. Menurutnya  seorang guru PAI dalam menyampaikan materi harus inovatif dan kreatif, tidak terfokus pada satu metode pengajaran saja. Sehingga anak didik tidak akan merasa rasa jenuh dan bosan.
Diperlukan kesabaran dan ketelatenan seorang guru PAI dalam menyampiakan materi di sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan anak didik merasa sulit dan susah untuk menerima dan mengaplikasikan nilai-nilai agama islam dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Ummi khasanah berpendapat bahwa ada faktor lain yang menyebabkan mereka lemah dalam menerima dan memahami nilai-nilai ajaran islam, yaitu dikerenakan lingkungan tempat tinggal dan pergaulan mereka tidak mendudung. Ummi khasanah menambahkan bahwa lingkungan tempat tinggal mereka masih sangat sedikit yang mengetahui tentang nilai-nilai ajaran agama islam. Sehingga anak didik hanya mendapatkan materi pendidikan agama silam dari sekolah saja. Selain hal itu, ia menambahkan bahwa tidak adanya pendidikan keagamaan, seperti Madin, pendidikan al-quran yang membimbing anak didik untuk mempelajari dan memahami agam islam, jaga menjadi faktor kendala anak didik.
Walaupun demikian, Umi Khasanah dan Suliah berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam sangat penting, karena  di dalamnya terdapat nilai-nilai ajaran agama islam, yang menjadikan anak didik dapat membedakan mana yang semetinya ia harus lakukan dan tidak.
Inilah sebuah proses, proses pembelajaran anak didik untuk mengenalkan mereka tentang nilai-nilai ajaran agama islam, yang harus mereka pegang dan mereka jadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi individu-individu yang kuat, kompetitif, dan mampu bersaing di dunia pendidikan.
 

DAFTAR PUSTAKA

Majid, Abdul & Dian Andani, 2004. Pendidikan Agama Islam Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Malik, Fajar & Quo Vadis, 2006. Pendidikan Islam “Pengembangan Pendidikan Islam Yang Menjajikan Masa Depan”. UIN- Press.

Muhaimin, 2003. Arah Baru Pendidikan Islam, Pemberdayaan Kurikulum Hingga Refidinasi Islamisasi Pengetahuan. Bandung : Yayasan Nuansa Cendekia.

Nawawi, Rifaat Syauqi, dkk, 2002. Metodologi Psikologi Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Ramayulis, 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
































E.     LAMPIRAN WAWANCARA
Observator: Ibu, apakah hari ini di sekolah anda ada kegiatan belajar mengajar pendidikan agama islam?
Suliyah: hari ini ada, Mbak. Seminggu sekitar empat atau lima pertamuan.
Observator: bolehkah saya melihat dan mengamati proses kegiatan belajar mengajar pendidikan agama islam di sekolah anda?
Suliyah: silahkan, mbak. Saya sangat senang sekali, mudah-mudahan berguna buat kita semua. Dan dapat menjadi tolak ukur sejauh manakah keberhasilan kami dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan pada siswa SMPN 3 ini.
Observator: bagaimana kegiatan belajar mengajar di sekolah anda khususnya dalam bidang PAI?
Ummi khasanah: Alhamdulillah lancar dan baik. Siswa sangat antusias dan respek terhadap mata pelajaran PAI.
Observatory: apakah ada kendala dalam penyampaian bahan mata pelajaran PAI di sekolah anda?
Ummi khasanah: ada, karena kebanyakan siswa belum bisa membaca alquran serta mengenal huruf hijaiyyah. Karena di lingkungan masyarakat tempat siswa tinggal pengetahuan tentang agama islam masih sangat sedikit sekali, tidak ada tempat-tempat yang mendukung siswa mengembangkan pembelajaran PAI disekolah sehingga menghambat kemajuan pemahaman mereka.
Observator: Metode apa saja yang anda gunakan dalam penyampain bahan mata pelajaran PAI?
Ummi Khasanah: metode yang saya gunakan dalam penyampaian mata pelajaran PAI tidak monoton, Mbak. Selalu berubah-rubah, sesuai dengan sub-sub mata pelajaran PAI yang sedang dipelajari. Terkadang saya menggunakan metode demonstrasi, terkadang ceramah, Tanya jawab, diskusi, dan praktek. Hal ini saya lakukan agar siswa tidak jenuh dan bosen terhadap mata pelajaran PAI serta memudahkan mereka untuk memahami dan mengamalkan apa yang telah mereka peroleh.
Observator: bagaimanakah motivasi dan minat siswa selama kegiatan belajar mengajar tersebut?
Ummi khasanah: walaupun mayoritas mereka berasal dari lingkungan masyarakat yang belum mengenal islam secara baik, tapi minat dan kemauan mereka untuk belajar agama sangat baik sekali. Hal ini dapat saya perhatikan ketika mereka mengikuti mata pelajaran PAI, mereka sangat antusias dan memperhatiakan.
Observator: sejauh manakah aplikasi siswa dalam menerima nilai-nilai keagamaan melalui Pendidikan agama Islam  dalam lingkungan akademik dan masyarakat?
Ummi khasanah: mereka menerapkan apa yang telah mereka dapatkan disekolah khususnya dalam pembelajaran PAI. Walaupun dalam prakteknya mereka masih memerlukan bimbingan dan latihan.
Observator: apakah ada kait-kiat khusus dari anda dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui pendidikan agama islam, sehingga memudahkan dan membantu isiwa untuk memahami mata pelajaran tersebut?
Ummi Khasanah: saya berusaha memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa apa yang telah mereka pelajari. Dimulai dari hal-hal yang kecil, misal tentang nilai-nilai kesopanan yaitu harus selalu berkata yang baik dan tidak berkata yang kasar dan kotor terhadap guru dan orang tua. Penanaman nilai-nilai jujur yaitu ketika mengerjakan tugas atau latihan siswa dilarang mencontek dengan teman lainnya. Dari kebiaasaan ini, diharapkan sisiwa menjadi siswa yang bertanggung jawab dan selalu memegang nilia-nilai keagaamaan ketika akan melakukan sesuatu.
Observator: apakah sarana dan prasarana sudah mendukung kegiatan belajar mengajar pendidikan agama islam, sehingga membuat siswa nyaman dan tertarik dalam belajar?
Ummi khasanah: alhamdulillah, Mbak. Untuk sarana dan prasaran sudah memadai. Walaupun masih ada yang perlu ditingkatkan lagi.
Observator: menurut anda, sejauh manakah pentingnya penanaman nilai-nilai keagamaan melalui pendidikan agama islam di banding dengan pelajaran lain?
Suliayah: menurut saya kedua-duanya penting, Mbak. Namun proporsi agama lebih banyak. Karena di dalamnya terdapat nilai-nilai ajaran agama islam, yang menjadikan anak didik dapat membedakan mana yang semetinya ia harus lakukan dan tidak. Serta menjadikan siswa yang kompetitif, jujur, dan bertanggung jawab.
Observator: apakah bahan ajar PAI telah sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain?
Suliyah: sudah memenuhi standar, Mbak. Sekitar 40-80%.
           
F.     LAMPIRAN FOTO


[1]  Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta, Kalam Mulia, 2010). Hal 21.
[2] Malik Fajar, Quo Vadis Pendidikan Islam “Pengembangan Pendidikan Islam Yang Menjajikan Masa Depan” (:UIN- Press, 2006), hal. 11-12

[4] Abdul Majid dan Dian Andani, Pendidikan Agama Islam Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 130
[5] Muhaimin, Arah Baru Pendidikan Islam, Pemberdayaan Kurikulum Hingga Refidinasi Islamisasi Pengetahuan (Bandung : Yayasan Nuansa Cendekia, 2003), hal. 185
[6] Rifaat Syauqi Nawawi, dkk, Metodologi Psikologi Islam (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002), hal. 15